GAWI SABUMI MEWUJUDKAN SEKOLAH BERSAHABAT RUMAH KEDUAKU MELALUI PROGRAM USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)
GAWI SABUMI MEWUJUDKAN SEKOLAH BERSAHABAT RUMAH KEDUAKU MELALUI PROGRAM USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS)
Oleh : Sari Oktarina, M.Pd.
Kepala SMA Negeri 11 Banjarmasin
1. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Sekolah merupakan ruang pendidikan yang membentuk karakter, kesehatan, kemandirian, kepedulian sosial, dan kesiapan mereka menghadapi kehidupan tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik peserta didik. Karena itu, sekolah yang berkualitas adalah yang sekolah yang mampu menghadirkan rasa aman, nyaman, sehat, inklusif, dan membahagiakan bagi seluruh warganya, bukan hanya sekolah yang mampu menghasilkan prestasi.
Pemikiran tersebut menjadi dasar pengembangan budaya “Sekolah Bersahabat, Rumah Keduaku” di SMA Negeri 11 Banjarmasin. Profil sekolah menegaskan bahwa kesehatan merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan pendidikan. Peserta didik yang sehat secara fisik, mental termasuk emosional, dan sosial, akan memiliki kemampuan belajar yang lebih optimal dan dapat berkembang secara akademik maupun nonakademik. Atas dasar itu, sekolah mengembangkan Usaha Kesehatan Sekolah melalui tiga pilar utama, yaitu Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, dan Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat.
Inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada UKS sebagai sebuah program administratif. UKS ditempatkan sebagai bagian dari budaya sekolah. Hal tersebut tampak dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan secara rutin dan terintegrasi dengan pembelajaran, kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, pelayanan kesehatan, pengelolaan lingkungan, pendidikan karakter, sampai dengan penciptaan lingkungan sosial-emosional yang aman dan nyaman. Profil sekolah bahkan menegaskan bahwa pembiasaan hidup sehat merupakan suatu budaya yang harus dijaga keberlanjutannya.
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Kepala SMA Negeri 11 Banjarmasin, menjadi faktor penting. Dalam struktur UKS, kepala sekolah secara resmi menjadi penanggung jawab yang mengoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, penyediaan sarana dan prasarana, pengaturan kegiatan, serta kerja sama lintas sektor.
Melalui kepemimpinan yang kolaboratif, sekolah mengintegrasikan berbagai program menjadi satu ekosistem pendidikan yang saling menguatkan. Program BERSAHABAT, 4 ZONA, MELISA, Jumat BERTATA RAPI, CLABS, CAGAR HARAT, G7KAIH, GESSIT, literasi kesehatan, Duta Kesehatan Remaja, Bank Sampah BARAKAT, serta berbagai kegiatan Trias UKS bukanlah program yang berdiri sendiri. Keseluruhannya diarahkan pada tujuan yang sama, yaitu mewujudkan sekolah sebagai ruang tumbuh yang sehat, aman, berkarakter, berprestasi, dan terasa seperti rumah kedua bagi peserta didik.
b. Rumusan Masalah
Permasalahan yang hendak dijawab melalui inovasi ini adalah bagaimana membangun sekolah yang mampu menciptakan budaya hidup sehat, lingkungan yang aman dan nyaman, karakter positif, kepedulian terhadap lingkungan, serta hubungan sosial yang mendukung perkembangan peserta didik, dan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik saja.
Selain itu, diperlukan pendekatan kepemimpinan sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, yang mampu menggerakkan seluruh warga sekolah agar kesehatan dan kenyamanan tidak sebatas menjadi tanggung jawab UKS atau guru tertentu, namun menjadi tanggung jawab bersama.
c. Tujuan Inovasi/Prestasi
Inovasi Gawi Sabumi dalam Program UKS ini, diarahkan untuk mewujudkan sekolah yang bersahabat dan menjadikan sekolah sebagai “rumah kedua” bagi peserta didik melalui integrasi kesehatan, karakter, lingkungan, pembelajaran, prestasi, dan keamanan sosial.
Tujuan tersebut diwujudkan dengan membangun budaya hidup bersih dan sehat, meningkatkan kesadaran kesehatan peserta didik, menyediakan pelayanan kesehatan yang terarah, menciptakan lingkungan fisik yang bersih dan aman, membangun lingkungan sosial-emosional yang positif, meningkatkan partisipasi peserta didik, serta memperkuat kolaborasi antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, komite, dan masyarakat.
d. Manfaat Inovasi/Prestasi
Manfaat inovasi ini dirasakan secara menyeluruh. Bagi peserta didik, program memberikan ruang untuk belajar hidup sehat, bertanggung jawab, mandiri, peduli, bekerja sama, mengembangkan bakat, dan berprestasi. Bagi guru, inovasi mendorong berkembangnya budaya keteladanan dan kolaborasi profesional. Bagi sekolah, program memperkuat kualitas lingkungan pendidikan sekaligus membangun identitas sekolah yang sehat dan berkarakter.
Manfaat lainnya adalah terbentuknya hubungan yang lebih erat dengan orang tua, Puskesmas Sungai Andai, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, komite sekolah, dan berbagai mitra lainnya. Kolaborasi tersebut memperluas kapasitas sekolah dalam memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan terbaik bagi peserta didiknya.
e. Peran Kepala Sekolah dalam Inovasi/Prestasi
Sari Oktarina, M.Pd., adalah Kepala Sekolah yang berperan sebagai pemimpin, pengarah, koordinator, fasilitator, sekaligus teladan dalam pengembangan budaya sekolah sehat. Sebagai penanggung jawab UKS, kepala sekolah memastikan program direalisasikan dalam pembagian tugas, penyediaan sarana, penganggaran, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan kolaborasi lintas sektor dalam program kemitraan.
Kepemimpinan tersebut juga diterapkan pada pengorganisasian UKS yang melibatkan unsur pemerintah wilayah, Puskesmas, guru, komite sekolah, dan peserta didik. Struktur tersebut menunjukkan bahwa sebagai kepala sekolah, harus mampu membangun kepemimpinan yang tidak sentralistik, tetapi mengembangkan kepemilikan bersama terhadap program sekolah sehat.
2. Uraian Inovasi/Prestasi
A. Bentuk Inovasi/Prestasi
GAWI SABUMI yang dalam bahasa Banjar dimaknai sebagai kerja bersama atau gotong royong, berangkat dari semangat kebersamaan untuk bergerak bersama dalam mencapai tujuan tanpa pamrih. Gawi berarti kerja atau bekerja, sedangkan sabumi mengandung makna bersama-sama atau serentak. GAWI SABUMI sendiri berasal dari filosofi Gawi Manuntung, sebuah nilai budaya Banjar yang memaknai setiap pekerjaan sebagai tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh hingga selesai atau tuntas. Gawi berarti pekerjaan atau kerja, sedangkan manuntung bermakna selesai atau tuntas. Filosofi ini mencerminkan sikap tanggung jawab, ketekunan, kerja keras, konsistensi, dan kesungguhan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
Filosofi Gawi Manuntung tersebut menjadi jiwa dalam pelaksanaan Program UKS di SMA Negeri 11 Banjarmasin, sebuah penguatan budaya sekolah yang diwujudkan melalui konsep Sekolah Bersahabat, Rumah Keduaku, dengan semangat untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat, aman, nyaman, dan mendukung seluruh warga sekolah. Inti inovasinya adalah mengintegrasikan berbagai dimensi pendidikan sehingga kesehatan merupakan budaya yang hadir dalam kegiatan belajar baik intrakurikuler, Kokurikuler dan Ekstrakurikuler, pembiasaan, lingkungan, interaksi sosial, pengembangan karakter, dan pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Program utamanya adalah BERSAHABAT (Berkarakter, Sehat, dan Hebat). Program ini mengintegrasikan pendidikan karakter, pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, serta pembinaan lingkungan sekolah sehat. Melalui program ini, peserta didik dilibatkan menjadi bagian dari perubahan melalui berbagai kegiatan kurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan UKS.
Penguatan berikutnya dilakukan melalui Program 4 ZONA sebagai budaya sekolah aman dan nyaman. Empat zona tersebut meliputi Zona Teduh Spiritual, Zona BISA— Bebas Bahaya dan Aksesibel, Zona Empati, serta Zona Digital Beradab. Pendekatan ini memperluas makna sekolah sehat dari sekadar kebersihan fisik menjadi perlindungan terhadap kebutuhan spiritual, keamanan fisik, kesejahteraan psikologis dan sosial, serta keadaban digital.
Pada tingkat implementasi keseharian, sekolah mengembangkan MELISA (Melihat Sampah Langsung Ambil) dan Jumat BERTATA RAPI, yang terdiri atas Jumat Bersih, Jumat Taqwa, Jumat Olahraga, dan Jumat Literasi. Dengan cara tersebut, satu hari dalam seminggu menjadi momentum pembiasaan yang menguatkan kebersihan, spiritualitas, kebugaran, dan budaya literasi secara bergantian.
Program CLABS (Cinta Lingkungan Aman, Bersih, dan Sehat) memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Program ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang hijau, bersih, aman, dan sehat, meningkatkan kesadaran PHBS, serta mendorong munculnya inovasi peserta didik dalam menjaga lingkungan. Sekolah menargetkan dirinya menjadi salah satu sekolah percontohan dalam Gerakan Sekolah Sehat melalui CLABS.
Di sisi pengelolaan lingkungan, terdapat Bank Sampah BARAKAT dan penerapan prinsip 7R: Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, dan Rot. Peserta didik belajar memilah sampah, memahami nilai ekonomi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, mendaur ulang bahan, sampai mengolah sampah organik menjadi kompos untuk taman dan greenhouse.
B. Implementasi
Implementasi dilakukan melalui Trias UKS secara terintegrasi. Pada bidang pendidikan kesehatan, materi kesehatan dimasukkan dalam pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. PJOK, Biologi, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, dan mata pelajaran lain dapat menjadi media untuk menanamkan pemahaman mengenai aktivitas fisik, gizi, kebersihan diri, kesehatan lingkungan, tanggung jawab, dan kepedulian.
Sekolah juga mengembangkan G7KAIH melalui kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Pembiasaan diperkuat melalui proyek dan praktik berbasis pengalaman sehingga peserta didik dapat mengalami dan mempraktikkan kebiasaan baik secara langsung.
Pendidikan kesehatan juga diwujudkan melalui kegiatan Aksi Bergizi, diantaranya; CTPS bersama, sarapan bergizi, pemberian Tablet Tambah Darah, aktivitas fisik, literasi kesehatan, serta pembinaan kader kesehatan remaja. Kader dilatih mengenai kesehatan remaja, gizi seimbang, kebersihan, kesehatan reproduksi, P3K, kepemimpinan, dan peran sebagai pendidik sebaya.
Pada pelayanan kesehatan, sekolah memiliki ruang UKS yang mendukung pemeriksaan dasar, P3K, konseling, pemberian TTD, edukasi, dan dokumentasi kesehatan. Buku Rapor Kesehatanku digunakan untuk mencatat perkembangan kesehatan peserta didik, sehingga sekolah, peserta didik, dan orang tua dapat memahami kondisi kesehatan secara lebih terarah.
Pada aspek lingkungan sosial, penerapan 4 ZONA disertai program ramah anak dan inklusif. Sekolah mengembangkan kanal pengaduan bullying, konselor sebaya, Duta Kesehatan Remaja, program BIJAK berbasis disiplin positif, serta fasilitas yang mendukung aksesibilitas. Dalam Profil sekolah juga menyebut adanya prosedur Sistem Penerimaan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus sebagai bagian dari komitmen terhadap akses pembelajaran yang setara.
C. Kolaborasi dengan Stakeholder
Kekuatan inovasi terletak pada kolaboras atau Gawi Sabumi. Sekolah bekerja sama dengan Puskesmas Sungai Andai dalam penjaringan kesehatan peserta didik baru, pemeriksaan berkala, pemberian TTD, layanan konseling, penyuluhan, pemeriksaan lingkungan, serta pelatihan kader. Kolaborasi juga dikembangkanbersama berbagai pihak, diantaranya; Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, komite sekolah, pihak swasta, orang tua, dan mitra lainnya.
Pendekatan kolaborasi tersebut menunjukkan gaya kepemimpinan kepala sekolahyang mampu membangun jejaring. Sekolah tidak berjalan sendiri, tetapi memanfaatkan kompetensi masing-masing stakeholder untuk memperkuat pelayanan kepada peserta didik. Kepala sekolah menjadi simpul yang menghubungkan kebutuhan sekolah dengan sumber daya dan keahlian dari luar sekolah.
Pada tingkat internal, kepala sekolah juga mendorong motivasi dan keterlibatan guru melalui Komunitas Belajar CAGAR HARAT, yang menjadi wadah belajar, berbagi praktik baik, refleksi pembelajaran, diskusi pedagogik, serta pengembangan karakter dan literasi sekolah sehat. Peserta didik pun diberikan peran dan tanggung jawab menjadi Kader Kesehatan Sekolah, Duta Kesehatan Remaja, Duta Lingkungan Sehat, Duta Anti Merokok, Duta Jumantik, kader kesehatan, PMR, dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
D. Dampak/Perubahan Setelah Implementasi
Implementasi inovasi menghasilkan perubahan budaya yang lebih luas daripada sekadar perubahan kondisi fisik sekolah. Profil sekolah mencatat adanya peningkatan kesadaran peserta didik terhadap PHBS, lingkungan yang lebih bersih dan tertata, meningkatnya partisipasi dalam kegiatan kebersihan, serta munculnya kader kesehatan remaja yang aktif dan inspiratif, nampak dalam program dan kegiatan yang mereka lakukan. Nilai disiplin, kerja sama, dan empati juga semakin kuat dalam budaya sekolah.
Perubahan tersebut tercermin pula dari keberhasilan sekolah meraih berbagai prestasi, antara lain Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi, Juara Lomba Sekolah Sehat Tingkat Kota dan sedang mempersiapkan diri mewakili kota Banjarmasin maju ke lomba Tingkat Provinsi, Juara 1 Lomba Senam Anak Indonesia Hebat kategori peserta didik dan guru, serta Juara Paparan Strategi Gerakan Sekolah Sehat Jenjang SMA pada Festival Kurikulum Merdeka Tingkat Provinsi dari BPMP Kalimantan Selatan. Sekolah juga mencatat prestasi dalam kegiatan komunitas belajar guru, prestasi peserta didik dalam Galeri Bintang Sekolah dan GESSIT, serta partisipasi aktif Duta Kesehatan Remaja dalam Gerakan Sekolah Sehat.
Dampak yang paling penting adalah perubahan cara pandang terhadap sekolah. Sekolah tidak lagi hanya dipersepsikan sebagai tempat belajar saja, tetapi sebagai tempat peserta didik merasa betah, aman, diterima, sehat, didukung, dan memiliki ruang untuk mengembangkan potensinya. Inilah esensi dari gagasan “Rumah Keduaku”.
E. Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan menjadi salah satu kekuatan utama Gawi Sabumi dalam Program UKS.Program telah disusun dalam perencanaan UKS tahun ajaran 2026/2027 dengan kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun, mulai dari pendidikan kesehatan terintegrasi, Aksi Bergizi, CTPS, senam, sarapan sehat, MBG, pembinaan kader, pelayanan kesehatan, konseling, pengukuran kesehatan, pengelolaan sanitasi, pengelolaan sampah, penghijauan, pemberantasan sarang nyamuk, hingga penerapan kawasan tanpa rokok dan NAPZA.
Keberlanjutan juga dijamin melalui sistem monitoring dan evaluasi. Sekolah menggunakan Rapor Kesehatan Lingkungan dan Kantin untuk menilai kebersihan ruang kelas, sanitasi, air bersih, toilet, pengelolaan sampah, keamanan, kenyamanan, dan kualitas makanan. Hasil penilaian menjadi dasar tindak lanjut dan perbaikan program.
Kepala sekolah juga memastikan seluruh guru mendapatkan orientasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sehingga guru bisa menjadi role model bagi peserta didik. Keteladanan tersebut diwujudkan melalui perilaku menjaga kebersihan, hidup sehat, mencuci tangan, menjaga kebugaran, dan menciptakan suasana belajar yang sehat serta nyaman.
Budaya telah ditanamkan melalui struktur organisasi, program kerja, penganggaran, kolaborasi stakeholder, pembiasaan, kaderisasi peserta didik, penguatan guru, serta monitoring dan evaluasi. Pada akhirnya, Gawi Sabumi dalam Program UKS ini menjadi sebuah pendekatan kepemimpinan sekolah yang menghubungkan kesehatan, karakter, pembelajaran, lingkungan, keamanan, dan prestasi dalam suatu ekosistem.
Penutup
Gawi Sabumi melalui gagasan “Sekolah Bersahabat, Rumah Keduaku” menunjukkan bahwa inovasi kepemimpinan sekolah tidak selalu berbentuk teknologi atau fasilitas baru. Inovasi dapat hadir melalui kemampuan seorang kepala sekolah dalam memahami, memetakan dan menyatukan berbagai potensi, membangun kolaborasi, menciptakan budaya, memberi keteladanan, dan memastikan setiap program memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah.
Kepemimpinan Kepala Sekolah menunjukkan peran tersebut melalui penguatan UKS sebagai budaya sekolah, integrasi Trias UKS ke dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, pengembangan lingkungan aman dan inklusif, pemberdayaan peserta didik, penguatan komunitas guru, serta pembangunan jejaring bersama stakeholder. Hasilnya terlihat terutama dari perubahan budaya menuju sekolah yang lebih sehat, bersih, aman, nyaman, peduli, berkarakter, dan berprestasi.
Pada akhirnya, sekolah yang hebat bukan hanya sekolah yang membuat peserta didik berhasil mencapai prestasi, tetapi sekolah yang membuat mereka merasa diterima, dihargai, dilindungi, dibimbing, dan memiliki tempat untuk tumbuh dan berkembang. Inilah makna sesungguhnya dari “Sekolah Bersahabat, Rumah Keduaku” sebuah ekosistem pendidikan yang menjadikan karakter, kesehatan, dan prestasi, tumbuh bersama. Profil sekolah sendiri menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan UKS, memperkuat kolaborasi, mengembangkan inovasi kesehatan berbasis teknologi, dan membudayakan PHBS secara berkelanjutan.
